A Revelation!

February 23rd, 2008 by kozarki

I’ve never taken my current job seriously. All this time, I see what I"m doing as just some brain less activities, which I do not have any authority to determine the result.

But today (February 13, 2008) an experience revealed a hidden side of it and a new conclusion was made : I am doing a serious job where I am accountable for the trust that my client & candidatres give me, in the very sensitive & confidential nature.

I was loosing words when I heard the person I met this afternoon saying: "Since I trust you, I want to give this. This is my CV. It is for you only so you could know my history."
I felt hurt at the tip of my fingers. I did not expect to get his CV since I am confident of his remarkable profile. I even felt very hesitate to ask for it.

But there he was, put his right hand inside of his suit, pull out a white envelope, and put it on the table-near my left hand.
I don"t know what to say.

When I finally took the envelope, I did not dare to open it. After that gentleman left, I didn’t even dare to touch it. I sit still, confused of what to do, and busy to calm down my heart that seemed to beat at a random tone.

Yes, I was shock. Shock by the understanding that somebody, had just entrusted himself to me! The last time I felt it was when Mecca looked at me, clueless of what has hurted his toes and trusted me to cure the pain and hold him.

But that gentleman is not my family. But he put himself on my hands with a trust that I will take good care of him & that trust he gave me.

I left Pacific Place with my head staring at the floor & my heart counting on my steps.

"Ya Allah, bantu hamba menjaga amanah ini, meski dia tak beriman sama."

Apakah Kita Masih Berani?

January 28th, 2008 by kozarki

Kami sekeluarga sedang makan siang di RM Sederhana Serpong ketika tiba-2 stasiun televisi yang sedang tayang mengganti acara dengan siaran reportase langsung dari RSPP. Awalnya engga ngeh, kirain reporter itu adalah reporter-2an yang termasuk ke dalam acara televisi tersebut. Tapi lambat laun jelaslah apa berita penting yang dikabarkan: Soeharto akhirnya meninggal dunia.

Tak ada terasa sedih mendengarnya. Haru pun tidak. Hanya ada sekilas rasa aneh seperti campuran rasa lega dan syukur. Bersyukur karena akhirnya orang itu meninggal juga sehingga benar-2 tidak layak lagi mengisi pikiran orang yang masih hidup.

Saya terdiam sejenak, sekelebat pikiran melintas: hmm… betapa ngeri anak-2 yang ditinggalkannya karena sekarang mereka sudah tidak punya benteng lagi. Sudah tak ada lagi alasan orang untuk merasa segan pada mereka. Bagaimanapun, orang hidup dan orang mati itu banyak bedanya. Tak cukup kenangan nama dan jabatan orang tua untuk membuat orang lain ragu ataupun sungkan mengusik dari mana mereka mendapatkan harta yang kini mereka nikmati, untuk merampas dari mereka apa yang mereka ambil dari orang lain. Untuk membuat mereka berhadapan dengan hukum manusia sebelum merasakan hukuman Allah seperti yang kini tentunya dihadapi oleh ayah mereka.

Saya lihat Mbak Tutut terisak-2 membuat pernyataan pers yang pertama. Di ujungnya dia berusaha merangkum inti pesan yang hendak dia sampaikan. Saya pasang telinga baik-2, coba menemukan kata ‘maaf’ di dalam kesimpulan pernyataannya. Tapi saya tidak menemukannya, tuh. Dia hanya mengucapkan terima kasih yang sedalam-2 serta mohon maaf karena tidak bisa apa.. gitu. Sama sekali dia tidak memberikan kesimpulan yang paling humble untuk disampaikan sebagai perwakilan keluarga: minta maaf untuk bapaknya yang sudah meninggal. Hah. Betapa sombongnya. Betapa sombong dan angkuhnya.

Lalu saya bertanya pada diri sendiri, “Mau memaafkan atau tidak, ya?” Saya tersenyum sendiri. Memaafkan urusan gampang karena toh yang dia lakukan kepada saya tidak separah apa yang dia lakukan kepada orang-2 lain. Seingat saya Islam bilang bahwa memaafkan dan bersabar itu lebih baik. Maka saya maafkan dia. Apakah saya merasa berkhianat pada diri sendiri dengan memberikan maaf itu? Tidak. Dan itulah yang membuat saya tersenyum sendiri.

Saya tersenyum karena saya teringat potongan-potongan ayat Al Quran yang menjanjikan betapa adilnya Allah, betapa setiap kita akan mempertanggung jawabkan setiap perbuatan, perkataan, bahkan pikiran dan perasaan kita kepada Dia yang menciptakan kita. Pernah saya dengar kisah di mana Rasulullah menangis saat melewati sebuah kuburan yang rupanya dikarenakan Beliau mendengar tangis dari dalam kubur itu, dan beliau tahu bagaimana orang itu diberi siksa kubur yang luar biasa dikarenakan apa yang dia lakukan semasa hidup di dunia.

Saya tersenyum karena hari ini dimulailah hukuman yang sebenarnya untuk orang yang paling bertanggung jawab atas kehancuran yang terjadi pada bangsa sa ya ini. Hari ini adalah hari kemenangan buat orang-2 yang dari lama telah menyimpan marah, sakit hati, kecewa dan dendam pada berbagai ketidakadilan yang terpaksa mereka telan. Allah Maha Mengabulkan Permintaan, dan hari ini Insyaallah Allah menepatinya.

Berapa banyak di antara kita yang pernah mendoakan hukuman yang setimpal bagi orang yang meninggal itu. Maka Insyaallah hari ini doa itu dikabulkan. Dia sudah kembali kepada yang menciptakannya. Dan hari ini, dia memulai babak pendahuluan dari masa mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Dan Allah Maha Adil, Allah Maha Tahu, Allah Maha Kuasa. Kita serahkan kepada Allah saja perhitungannya. Kita serahkan kepada Allah saja penghukumannya. Kita serahkan kepada Allah saja semua urusan yang berkaitan dengan yang telah meninggal.

Tak terasa bulu tengkuk saya berdiri. Tak terbayang betapa pahit alam kubur dan masa menunggu berbangkit yang harus dijalani orang yang meninggal itu. Saya memaafkannya dengan keyakinan bahwa Allah lebih adil. Allah yang paling hebat dalam memperhitungkan dan memberikan ganjaran. Alhamdulillah hari ini Allah sudahi urusan dengan yang meninggal itu, tak layak lagi dia mengisi hari-2 kita.

Lebih baik, kita sibukkan diri dengan yang masih hidup. Kita teruskan mengganyang mereka demi masa depan anak-2 kita. Ayo kita gayang anak-2nya, ayo kita ganyang bekas-2 pembantunya, ayo kita rampas sebagian harta warisannya yang memang sebenarnya adalah milik kita! Pertanyaannya: apakah kita masih berani?

Oleh-oleh dari Bukittinggi

November 18th, 2007 by kozarki

Selasa pagi, 6 November lalu, saya mampir ke rumah Ibuk. Engga ada agenda khusus, sih. Cuma mau nanya dan liat gimana kabarnya. Kami duduk di ruang tamu berdua, dan dengan wajah ‘iri’ Ibuk bercerita tentang kegiatan Bung sekeluarga di kampung. Bung adalah kakak saya nomor 5 yang punya istri orang Bukittinggi. Sudah sejak hari Sabtu sebelumnya mereka sekeluarga pulang. "Si Bung pai ka kampuang, batamu si-itu, si-itu.." Kira-2 begitu cerita Ibuk.

Melihat wajah Ibuk yang seperti memendam keinginan untuk juga berada di tanah kelahirannya dan bertemu dengan orang-2 dari masa lalunya, saya jadi tergerak untuk bertanya ke Joko apakah saya boleh pulang ke Bukittinggi atau tidak. Alhamdulillah boleh. Cari tiket juga gampang, dapet yang cukup murah. Berangkat Rabu pagi, pulang Jumat pagi.

Sambil cekikikan kami berdua merencanakan ‘kegilaan’ yang akan kami lakukan di kampuang. Rabu sampai, ke Bukittinggi, makan nasi Tek Apuak, ke Solok (tempat kelahiran Ibuk), ke Tarok (tempat kelahiran dan pusara Ayah), ke Bukittinggi lagi, makan sate, dsb, dst… semua kegiatan yang berhubungan dengan nostalgia dan makan :-)

Sayangnya lupa bawa kamera. Jadinya bikin foto cuma mengandalkan handphone. Hmm… hampir 6 tahun engga pulang, pulang kemarin rasanya agak ga karuan juga. Potret sana-sini, coba mengabadikan sambil mengingat wajah Bukittinggi waktu saya masih bersekolah di sana.

Banyak yang berubah, tampaknya gara-2 tekanan ekonomi dan kegagalan pemerintah daerah mengelola kota kecil cantik yang miskin sumber daya alam namun dipenuhi manusia-2 yang memiliki visi, meletakkan pendidikan sebagai tolok ukur keberhasilan orang tua membesarkan anaknya.

Yang tidak berubah, keindahan pemandangan alam dan kesejukan udaranya. Duh, tak ada yang bisa menandingi segarnya warna hijau dan biru di Bukittinggi. Kalau berdiri di titik yang cukup tinggi, di kejauhan akan tampak warna biru dan hijau yang tidak ada duanya. Berasal dan gunung dan bukit-2 di bawahnya.

Kami cuma sehari di Bukittinggi. Ah, ingin rasanya kembali tinggal di Bukittinggi, menikmati irama hidup yang begitu tentram meski penuh perjuangan. Bangun saat kumandang azan menggema dari puluhan mesjid di sana, wudhu dengan air yang sedingin es.. Minum teh manis panas sambil menikmati warna biru dan hijau tadi.. Jalan ke lapau cari sarapan.. Ah.. indahnya.

Dalam perjalanan dari Padang ke Bukittinggi, di benak saya silih berganti ingatan tentang kampuang. Rasa rindu itu membuat saya lebih memperhatikan tebing, jurang dan sungai yang kami lewati di sepanjang perjalanan. Saya tersadar, di perantauan saya hingga sekarang ini, tak pernah saya menemukan yang secantik ini… Saat kami melewati Padang Panjang, selimut kabut putih turun meliputi pepohonan yang hanya beberapa puluh meter dari jalan yang kami lewati. Hati saya rasanya hampir meledak menikmati pemandangan itu, karena saya tau: setelah jalan mendaki yang kami lewati itu, setelah tebing, jurang dan hutan berkabut yang kami lewati itu, kami akan disambut oleh pemandangan indah yang selalu kami rindukan: Bukittinggi.

Saya bilang pada Bung, "Ondeh, iyo baruntuang bana awak dilahiakan di Bukiktinggi. Kalau indak, di ma pulo awak ka tau kalau ado nagari ketek sarancak kampuang awak."

Yah, sayang pemerintah daerah dan hampir seluruh masyarakat yang kini mendiami Bukittinggi tidak sadar betapa berharga permata yang tersembunyi di balik pemandangan yang sehari-2 mereka lihat. Kembali ke Jakarta saya bilang sama Joko, "Saya mau jadi walikota Bukittinggi 15 tahun lagi." :-)

Buat yang ingin melihat wajah Bukittinggi, beberapa hari lagi bisa lihat di flickr.com, saya pakai nama "Kimzana" di sana. Mohon maaf untuk kualitas fotonya, maklum cuma pakai kamera handphone…

Hanya anggota pasif mailinglist, lhoo…

November 17th, 2007 by kozarki

Baca Kompas minggu pagi ini bikin blingsatan. Mesti cepet-2 bikin pernyataan nih. Saya adalah alumni ITB tapi saya bukan anggota IA ITB, cuma anggota pasif milist-nya aja kok. Jadi dengan begitu, saya bukanlah anggota ketua baru yang kemarin menang pemungutan suara.

Kebayang gimana menjawab pertanyaan mencemooh dari teman-2, keluarga, kolega.. "Waahh… Hebat ya, sebanyak itu alumni ITB, yang kepilih jadi ketua malah orang yang dari jaman kapan tau dikenal masyarakat luas sebagai menteri tergagal dalam sejarah kabinet Republik Indonesia." Haaaahhh!!!! Musti jawab apaaa??? Apa mesti bilang kalo supporter-2 pemenang itu menggunakan berbagai jalan untuk memaksa orang-2 memilih pemenang itu? Aduh, malunya…

Eh, kenapa mesti malu ya? Saya ini kan cuma anggota pasif mailing list IA ITB. PASIF. Cuma bisa baca postingan orang, ga bisa posting tulisan sendiri (duh, padahal udah berapa kali pengen ngejotos orang yang ngakunya mengusung keragaman tapi tulisannya selalu claim eksklusifitas sekelompok orang. Hah!!)

Horeee.. saya bukan anggota ikatan alumni ITB. Jadi, paling engga, saya ga perlu merasa grogi dengan hasil pemilihan kemarin. Dan yang paling penting, si ketua baru itu bukan ketua saya!! HAH! Memalukan!

Mecca bisa menyebut dirinya

September 28th, 2007 by kozarki

Pagi tadi Laila dan Mecca bangun duluan. Kami duduk bertiga di kasur. Bunda bilang, "Ini siapa?" sambil menepuk dada Mecca. Mecca pun menepuk dada dengan kedua tangannya dan (untuk pertama kalinya) bilang, "Eka.. Eka.." Ya Allah.. Alhamdulillah… udah lama ditunggu-2 akhirnya terdengar jugaaa… :-)

Lalu dia meneruskan dengan menunjuka ayah dan bilang, "Ah.." Ya Allah.. Alhamdulillah.. semoga dari hari ke hari kemampuan bicara Mecca berkembang dengan normal dan semakin bisa mengartikulasikan kata-2 yang sudah dia mengerti namun selama ini belum dia ucapkan.

Flickr

September 7th, 2007 by kozarki

Mumpung lagi mood, beberapa foto waktu di India dulu sempet di-upload. Di flickr, kiorici. Enjoy…

Tentang Berkarir

September 7th, 2007 by kozarki

Ada juga teman yang menyayangkan keputusan meninggalkan Shell. “Karir udah bagus, sayang banget…” katanya.

Well, dulu waktu masih jadi ibu rumah tangga aja saya sering kagum perempuan-2 yang sukses berkarir. Jalan hidup membawa saya ke Shell. Kerja di sana dan tanpa sadar, berkarir juga. Hehe. Berawal dari kerja jadi admin (yes, I was) terus tanggung jawab makin besar, di awal tahun jadi lebih besar dan punya jabatan beneran. Fasilitas kerja jadi nambah, ga cuma handphone tapi juga laptop.

Dulu rasanya kalo orang yang kerja dikasih laptop dan handphone di mata saya jadi keren, se-keren-kerennya. Jadi waktu di awal-2 dulu 2 benda ini diberikan sebagai fasilitas kerja, rasanya seneng juga. Ngganteng, kata orang Jawa.

Dulu juga rasanya kalau orang kerja sering ke luar negeri, kesannya gimanaa.. gitu. Hebat banget lah. Mau urusannya apapun, terserah. Yang penting orang itu ke luar negeri dan dibayarin (entah kantornya, vendornya, cukongnya, tukan catutnya.. hihii… siapapun-lah). Waktu di Shell, kerja baru 3 minggu disuruh training ke luar negeri 1 minggu. Kebayang ga, ibu-ibu yang udah 3 taun di rumah aja, dengan dunia yang udah sangat-2 menciut, tiba-2 mesti pisah dari keluarganya selama 1 minggu, ketemu bule-2, mesti berkomunikasi pakai Bahasa Inggris… Huah!! Sengsara banget.. Rasanya seperti tiba-2 tercerabut dari konteks alias jadi orang bingung. Hehehee.. walhasil training belum selesai tapi udah minta pulang  Untung masih dikasih lulus sama trainernya. Hahahhaa…

Pulang 2 minggu lebih sedikit, disuruh pergi lagi. Waktu itu untuk kongkow dengan orang-2 se Asia Pasifik. Team building, away day, meeting, kenalan, silaturahmi. Duh, ninggalin anak-2 sama suami rasanya huaahh… pediihh… pas lagi di sana, Joko bilang dia disuruh ke luar kota untuk meeting 2 hari. Haduh, hati ini rasanya bersalaaaaahh.. banget sama anak-2. untungnya kepergian ini hanya 3 hari. And that was fun, though;-)

Setelah itu, pulang malam-berangkat pagi-ke luar negeri-kerja weekend, semua jadi engga ada bedanya. Keluarga? Lupa. :D Bener lho. Malah waktu itu udah engga ada rasa bersalah lagi, engga ada rasa cemburu lagi melihat anak-2 begitu akrab dengan babysitter mereka. Gila ya? But that was my experience, being a career woman. Kantor sama menariknya dengan rumah. Malah pulang kantor juga masih dipakai untuk main-2 ke PI Mal, pacaran ama Joko :-) dengan dalih, toh di rumah anak-2 juga udah pada tidur….

Alhamdulillah Allah masih mengingatkan sehingga ada kejadian-2 yang membuka mata saya bahwa tanggung jawab utama saya adalah keluarga dan bukan kantor. And for whatever reason I might create as a coward justification for being a workaholic, my family just do not deserve other place on my priority list, rather than the first. Lama-2 hati mulai bicara, mulai merefleksi, untuk apa semua hal yang kesannya hebat tadi bila keluarga (yang sebenernya menjadi alasan utama saya kembali bekerja) ternyata tergeser dari posisi pertama prioritas hidup saya? They need me fresh, they need me happy, they need me with my energy. And ‘me’ like that has simply disappeared bersamaan dengan semakin bergengsi jabatan yang saya dapat dan semakin banyak fasilitas kantor yang saya nikmati.

Handphone dibayarin membuat saya engga bisa escape dari telecon di malam hari. Telecom berarti harus tenang thus, engga bisa ketawa-2 sama anak-2 dan Joko. Ada laptop membuat saya tidak bisa mengelak dari bekerja di waktu weekend, padahal seharusnya 2 hari libur itu adalah untuk membayar sepi dan kangen yang dirasakan anak-2 setelah 5 hari nyaris engga ketemu. (kebayang ga, kami Cuma ketemu pagi hari, seharian engga ngomong gara-2 saya engga pernah sempat untuk menelepon pulang, dan malam hari mereka tidur ditemani babysitter karena Joko pun harus nungguin saya selesai kerja di kantor hingga sekitar jam 9 malam).

Tugas ke luar negeri membuat saya terpisah begitu jauh dari anak-2 dan Joko. Enakkah rasanya? Engga. Segala yang disebut orang indah menjadi tidak menarik karena tidak dinikmati bersama mereka.

Begitulah, the more I think about it the more I realize that those 3 years after giving a birth for Laila had changed me into a mother and a wife. And I want to give a soul to those two titles forever. I never want to be a career woman although I hope to be given a chance to do something useful for a greater surrounding. I just want to be a mother and a wife for which my family will forever say “Alhamdulillah” having me in the family. Yes, that is all that I want. Career? Well… 10 tahun lagi mungkin iya, tapi sekarang engga dulu deh. Anak-2 engga akan pernah kembali balita. Saya dan Joko juga semakin tua. Apakah kami kaya? Hmmm.. dalam ukuran materi, kami jauh dari kaya. Tapi di dalam hati, Insyaallah kami tidak merasa kekurangan. Laila dan Mecca membuat kami berdua tidak punya alasan untuk tidak berucap “Alhamdulillah” pada apa yang Allah berikan untuk hidup kami sekeluarga.

Lagu untuk Shell

September 7th, 2007 by kozarki

Banyak yang bertanya, kenapa keluar dari Shell. Menjawabnya jadi susah, mesti bener-2 diplomatis. Hehe, soale udah janji ga cerita sih. (although, my inner circle know exactly why). Apalagi waktu suatu hari lagi nunggu giliran diinterview di sebuah perusahaan, kandidat yang hari itu juga menjalani proses yang sama tiba-tiba bilang, “Kaya’nya kita pernah ketemu deh, Mbak.” Saya kontan menjawab, “Hmm, kaya’nya engga deh. Wajah saya emang pasaran kok.” “Bener deh, Mbak. Ng… Mbak yang waktu itu datang ke ITB untuk rekrutmen Shell, kan?” WoupS!! Ketauaann…!!! Hihihii… ngobrol dikit, si orang itu nanya gini, “Kok Mbak mau pindah dari Shell, padahal Shell kan perusahaan besar.” Waah… berhubung waktu itu masih kerja di Shell (dan jadi recruiter-nya pula!), menjawab pertanyaan ini jadi susah banget. Untung satu ide cepat melintas, “Hmm… mungkin tidak semua orang cocok untuk kerja di perusahaan besar dan bagus.” Hahahhaa… jawabannya keren, kan? ;-)

Dua hari yang lalu on the way ke kantor ndengerin Female radio, 99.5 FM. Ada lagu I Love You Goodbye-nya Celine Dion. Lagu udah lama banget.. Dulu sih hafal, tapi karena udah lama ga denger jadi lupa. Menyimak bait-bait-nya, jadi ingat Shell. Hmm.. lucunya, keseluruhan lagu itu menceritakan the way I feel inside when I took that decision to leave Shell and how I then convinced myself that it was the best decision for me, my family and Shell. Jadi, buat yang masih bertanya-2 why I decided to resign, coba simak bait-2 di bawah ini deh. This is really what I talked to myself prior and after I submitted my resignation e-mail (of course, you got to try to make some adaptation since this song is actually dedicated to a person-human being instead of a company or an organization).

Celine Dion - I Love You, Goodbye

Wish I could be the one
The one who could give you love
The kind of love you really need
Wish I could say to you
That I’ll always stay with you
But baby that’s not me
You need someone willing to give their heart and soul to you
Promise you forever, baby that’s something I can’t do
Oh I could say that I’ll be all you need
But that would be a lie
I know I’d only hurt you
I know I’d only make you cry
I’m not the one you’re needing
I love you, goodbye

I hope someday you can
Find some way to understand I’m only doing this for you
I don’t really wanna go
But deep in my heart I know this is the kindest thing to do
You’ll find someone who’ll be the one that I could never be
Who’ll give you something better
Than the love you’ll find with me
Oh I could say that I’ll be all you need
But that would be a crime
I know I’d only hurt you
I know I’d only make you cry
I’m not the one you’re needing
I love you, goodbye

Leaving someone when you love someone
Is the hardest thing to do
When you love someone as much as I love you

Oh I don’t wanna leave you
Baby it tears me up inside
But I’ll never be the one you’re needing
I love you, goodbye

Baby, its never ganna work out
I love you, goodbye

Juli 2007

July 15th, 2007 by kozarki

Juli 2007 bagi keluarga kami adalah bulan yang penting. Ada banyak hal tercatat di kalender. Pertama, tanggal 1 Juli kemarin, Bunda ganti status. Kedua, tanggal 6 Juli kami sekeluarga pertama kalinya mudik ke kampung Ayah untuk memenuhi janji menemui Eyang Buyut-nya Laila dan Mecca. Ini adalah perjalanan udara Mecca yang pertama. Ketiga, tanggal 16 Juli (besok!!) adalah hari pertama Laila bersekolah. Sekolah beneran, masuk TK A. Hari pertama dari barangkali lebih dari 20 tahun pendidikan formal yang akan dia lewati. Tentu bila Allah mengizinkan dan memberikan rejeki-Nya. Tanggal 23 Juli, Bunda memulai petualangan baru. Tanggal 28 Juli, Insyaallah kami memperingati ulang tahun pernikahan yang ke-5.. Duh, semoga di bulan Juli ini juga Mecca mengucapkan kata lengkapnya yang pertama…

Ya Allah, mohon beri kami kelancaran dalam segala urusan..

Facts about Life

July 2nd, 2007 by kozarki

What do we know about life? I don’t think I know much about it. First, it’s constantly change, second, it’s more unpredictable then the other way around, third, every second comes only once, forth, you could never hold back the clock, fifth, you got give the best out of yourself if you want life to give its best back to you. Sixth, life is just no more than a bridge to the eternal life, seventh, it always waits for the right time to answer question of why things happen not the way one wants it to happen, nineth, it is a continuous curves of highlights and lowlights which when we sum them up all together should only give us a neutral results in the middle where we will find enough reason for sincerely be thankful to Allah for each and every experience we are given in life. Tenth…? I think this is very important: it is a journey that has been destined to each of us with a set of rules and regulations, but with a job descriptions that we would need to discover and collect along the way.

Now, I don’t know which comes first (at least the above order came into my mind without too much effor to think & consider about it). But taken this life as a journey, then I think what’s after it should be taken as the main goal, purpose or objective of one’s life.

It’s been a few years since I first declared that my ambition is to go to heaven after I die. Am I close to it now? I don’t know. But I found that life nowadays has been really misleading me from survival and live life the way I think I should in order to fulfill my ambition.

I once asked myself, is it a must to step on other people’s foot in order for us to be heard or recognized? Is it a must to quote someone’s words in different context for our own good while put that quoted person’s reputation in danger of being an untrustworthy one? Do we really need to take credit on other people’s effort?…

I found the answer one night, after did my wudhu. I think "No" is the answer for all those questions and other questions similar to them. There is just no way that Allah creates a condition where the only way for us to survive is by doing something bad to someone else. It just doesn’t fit with the predefined guideline of having a worhty life that is enough to make us deserve heaven at the end of this journey.

Then why people do that? I don’t know. Or I might refuse to know. Do you know? Do you know what can be more valuable then having heaven after this journey?…