Ada juga teman yang menyayangkan keputusan meninggalkan Shell. “Karir udah bagus, sayang banget…” katanya.
Well, dulu waktu masih jadi ibu rumah tangga aja saya sering kagum perempuan-2 yang sukses berkarir. Jalan hidup membawa saya ke Shell. Kerja di sana dan tanpa sadar, berkarir juga. Hehe. Berawal dari kerja jadi admin (yes, I was) terus tanggung jawab makin besar, di awal tahun jadi lebih besar dan punya jabatan beneran. Fasilitas kerja jadi nambah, ga cuma handphone tapi juga laptop.
Dulu rasanya kalo orang yang kerja dikasih laptop dan handphone di mata saya jadi keren, se-keren-kerennya. Jadi waktu di awal-2 dulu 2 benda ini diberikan sebagai fasilitas kerja, rasanya seneng juga. Ngganteng, kata orang Jawa.
Dulu juga rasanya kalau orang kerja sering ke luar negeri, kesannya gimanaa.. gitu. Hebat banget lah. Mau urusannya apapun, terserah. Yang penting orang itu ke luar negeri dan dibayarin (entah kantornya, vendornya, cukongnya, tukan catutnya.. hihii… siapapun-lah). Waktu di Shell, kerja baru 3 minggu disuruh training ke luar negeri 1 minggu. Kebayang ga, ibu-ibu yang udah 3 taun di rumah aja, dengan dunia yang udah sangat-2 menciut, tiba-2 mesti pisah dari keluarganya selama 1 minggu, ketemu bule-2, mesti berkomunikasi pakai Bahasa Inggris… Huah!! Sengsara banget.. Rasanya seperti tiba-2 tercerabut dari konteks alias jadi orang bingung. Hehehee.. walhasil training belum selesai tapi udah minta pulang Untung masih dikasih lulus sama trainernya. Hahahhaa…
Pulang 2 minggu lebih sedikit, disuruh pergi lagi. Waktu itu untuk kongkow dengan orang-2 se Asia Pasifik. Team building, away day, meeting, kenalan, silaturahmi. Duh, ninggalin anak-2 sama suami rasanya huaahh… pediihh… pas lagi di sana, Joko bilang dia disuruh ke luar kota untuk meeting 2 hari. Haduh, hati ini rasanya bersalaaaaahh.. banget sama anak-2. untungnya kepergian ini hanya 3 hari. And that was fun, though;-)
Setelah itu, pulang malam-berangkat pagi-ke luar negeri-kerja weekend, semua jadi engga ada bedanya. Keluarga? Lupa.
Bener lho. Malah waktu itu udah engga ada rasa bersalah lagi, engga ada rasa cemburu lagi melihat anak-2 begitu akrab dengan babysitter mereka. Gila ya? But that was my experience, being a career woman. Kantor sama menariknya dengan rumah. Malah pulang kantor juga masih dipakai untuk main-2 ke PI Mal, pacaran ama Joko
dengan dalih, toh di rumah anak-2 juga udah pada tidur….
Alhamdulillah Allah masih mengingatkan sehingga ada kejadian-2 yang membuka mata saya bahwa tanggung jawab utama saya adalah keluarga dan bukan kantor. And for whatever reason I might create as a coward justification for being a workaholic, my family just do not deserve other place on my priority list, rather than the first. Lama-2 hati mulai bicara, mulai merefleksi, untuk apa semua hal yang kesannya hebat tadi bila keluarga (yang sebenernya menjadi alasan utama saya kembali bekerja) ternyata tergeser dari posisi pertama prioritas hidup saya? They need me fresh, they need me happy, they need me with my energy. And ‘me’ like that has simply disappeared bersamaan dengan semakin bergengsi jabatan yang saya dapat dan semakin banyak fasilitas kantor yang saya nikmati.
Handphone dibayarin membuat saya engga bisa escape dari telecon di malam hari. Telecom berarti harus tenang thus, engga bisa ketawa-2 sama anak-2 dan Joko. Ada laptop membuat saya tidak bisa mengelak dari bekerja di waktu weekend, padahal seharusnya 2 hari libur itu adalah untuk membayar sepi dan kangen yang dirasakan anak-2 setelah 5 hari nyaris engga ketemu. (kebayang ga, kami Cuma ketemu pagi hari, seharian engga ngomong gara-2 saya engga pernah sempat untuk menelepon pulang, dan malam hari mereka tidur ditemani babysitter karena Joko pun harus nungguin saya selesai kerja di kantor hingga sekitar jam 9 malam).
Tugas ke luar negeri membuat saya terpisah begitu jauh dari anak-2 dan Joko. Enakkah rasanya? Engga. Segala yang disebut orang indah menjadi tidak menarik karena tidak dinikmati bersama mereka.
Begitulah, the more I think about it the more I realize that those 3 years after giving a birth for Laila had changed me into a mother and a wife. And I want to give a soul to those two titles forever. I never want to be a career woman although I hope to be given a chance to do something useful for a greater surrounding. I just want to be a mother and a wife for which my family will forever say “Alhamdulillah” having me in the family. Yes, that is all that I want. Career? Well… 10 tahun lagi mungkin iya, tapi sekarang engga dulu deh. Anak-2 engga akan pernah kembali balita. Saya dan Joko juga semakin tua. Apakah kami kaya? Hmmm.. dalam ukuran materi, kami jauh dari kaya. Tapi di dalam hati, Insyaallah kami tidak merasa kekurangan. Laila dan Mecca membuat kami berdua tidak punya alasan untuk tidak berucap “Alhamdulillah” pada apa yang Allah berikan untuk hidup kami sekeluarga.